SDN Tanjung II Pademawu-Pamekasan, Ajak Cinta Budaya Sejak Dini

MataMaduraNews.com – Pamekasan sebagai salah satu Kabupaten di Madura memiliki banyak budaya. Mirisnya, tidak semua masyarakat Bumi Gerbang Salam hari ini mengenali ragam budaya mereka. Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan dan kurangnya rasa cinta terhadap budaya lokal. Sehingga, kemungkian ragam budaya sudah tinggal nama saja beberapa tahun ke depan, jelas menjadi bayang-bayang.

PENTAS BUDAYA: Tari Getta’ yang ditampilkan oleh siswa-siswi SDN Tanjung II, Pademawu, Pamekasan pada malam kenaikan kelas beberapa waktu lalu

Fakta tersebut tentu merujuk pada satu kesimpulan, bahwa butuh perhatian khusus untuk menyelamatkan budaya dari jurang kehancuran. Salah satunya dilakukan dengan proses kaderisasi sejak dini atau ditanamkan kecintaan terhadap budaya lokal, seperti dilakukan SDN Tanjung 2, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan.

Upaya kaderisasi dan penanaman kecintaan budaya direalisasikan SDN Tanjung 2 pada malam kenaikan kelas, Juni 2017 lalu. Pihak sekolah mengangkat sejumlah budaya lokal sebagai bagian dari penampilan sekaligus ajang unjuk kebolehan oleh siswa-siswi SDN Tanjung 2 Pademawu, Pamekasan.

Budaya yang diselipkan sebagai penampilan adalah tarian. Yaitu Tari Getta’ dan Tari Dhangga’  sebagai produk asli budaya Pamekasan. Budaya kabupaten tetangga pun ditampilkan, seperti Tari Muang Sangkal. Bahkan adegan Joko Tarub yang terkenal juga tak ketinggalan.

Penampilan budaya pada momentum perpisahan itu tidak terlepas dari upaya Kepala SDN Tanjung 2. Aparatur Sipil Negara (ASN) bernama Zainollah yang baru saja dipindahtugaskan ke sekolah tersebut merupakan motor penggerak diselipkannya penampilan budaya.

”Tari Getta’ saya tampilkan di sini punyanya Pamekasan, sedangkan (Tari, red) Muang Sangkal punyanya Sumenep,” ujar Zainollah saat ditemui Mata Madura di ruang kerjanya, 17 Juni lalu.

Usai berkata demikian, ia pun buru-buru memberikan klarifikasi. Soal siswa-siswinya yang memperagakan Tari Muang Sangkal, dijelaskan Zainollah bukan ingin mengaku-ngaku. Namun, hanya berupaya memperkenalkannya sebagai bagian dari budaya Madura pula.

”Kan tidak apa-apa. Bukannya mau mencaplok sana (Sumenep, red), biar anak-anak sini tahu juga ini punyanya Sumenep. Setidaknya kenal dan sekaligus memperaktikkan daripada orang Australi (Australia, red) yang memperaktikkan, asalkan jangan mengaku,” tegasnya.

Selain itu, SDN Tanjung 2 baru menyelipkan penampilan budaya tersebut pada acara kenaikan tahun ini. Sebab, di tahun sebelumnya Zainollah masih menjabat kepala di sekolah lain. Meski demikian, Kepala SDN Tanjung 2 itu telah berkomitmen upaya perdana tersebut akan terus dipertahankan dan diperhatikan.

”Saya baru tahun kemarin pindah ke sini, baru satu kali. InsyaAllah selama saya masih di sini akan terus diperhatikan,” ujarnya, mantap.

Dengan memperagakan penampilan berbau budaya, menurut Zainollah, juga bisa menimbulkan kesenangan tersendiri. Apalagi, bila yang memainkan merupakan pelajar yang usianya masih tergolong dini. Otomatis, akan terdapat proses regenerasi agar tidak punah dan bisa diteruskan terhadap generasi selanjutnya.